Mengevaluasi Nilai Investasi Training dengan ROTI

This item was filled under [ Academic, Psychology ]

Seringkali, training dianggap sebagai sebuah pengeluaran. Pandangan ini menyebabkan banyak manajemen perusahaan yang menomorduakan kebutuhan training bagi karyawannya karena menganggap hanya buang-buang dana dan waktu. Pandangan lain yang menganggap bahwa training merupakan bentuk investasi dituntut untuk dapat membuktikan secara objektif bahwa training memang menghasilkan benefit yang dapat dihitung secara finansial.

Bertahun-tahun nilai investasi (ROI/ return on investment) untuk pelatihan diasumsikan tidak mungkin untuk dihitung. Pada akhirnya Return on Training Investment (ROTI) dikembangkan menjadi sebuah alat untuk menjawab apakah suatu pelatihan dapat dievaluasi dilihat dari sisi nilai ekonomis atau tidak.

Return on Training Investment (ROTI) adalah perhitungan keuntungan secara financial Nilai Rupiah Hasil Training dibandingkan terhadap Modal atau biaya Training yang telah dikeluarkan.

Menurut Phillips (2013), proses evaluasi ROTI terdiri dari empat tahapan umum, yaitu perencanaan, penngumpulan data, analisis data, dan pelaporan hasil. Dalam tahap perencanaan dilakukan rencana evaluasi dan mengumpulkan informasi mengenai data awal dan latar belakang penyelenggaraan pelatihan.

Pada tahap pengumpulan data, dilakukan evaluasi yang menghasilkan data mengenai kepuasaan terhadap pelatihan, hasil belajar yang diperoleh, aplikasi hasil pelatihan dalam pekerjaan, dan dampak dalam kinerja.

Tahapan analisis data membuat konversi nilai benefit training ke dalam bentuk keuangan (rupiah) sehingga dapat dihitung dalam bentuk angka. Hasil dalam bentuk angka tersebut akan disampaikan sebagai hasil akhir dalam proses evaluasi ROTI.

 

Langkah menghitung ROTI

Secara praktis, langkah penghitungan nilai ROTI dapat dibagi menjadi lima tahapan, yaitu:
i. Identifikasi pelatihan. Data yang diidentifikasi antara lain, kurikulum pelatihan, tempat dan waktu pelaksanaan, fasilitator, peserta, dan unit analisis.

ii. Daftar alasan pelatihan dilakukan. Dalam hal ini mengumpulkan data mengenai latar belakang dan tujuan pelatihan, manfaat pelatihan yang diperoleh baik yang bersifat tangible maupun intangible

iii. Kalkulasi biaya pelatihan. Biaya pelatihan yang dihitung mencakup:
a) analisa kebuthan (TNA) dan perencanaan
b) pengembangan materi dan kurikulum
c) biaya registrasi
d) fee trainer dan konsultan
e) peralatan dan perlengkapan
f) fasilitas
g) akomodasi
h) gaji selama pelatihan

iv. Kalkulasi benefit pelatihan. Benefit pelatihan dapat dikategorikan menjadi:
a) Penghematan waktu
b) Peningkatan produktifitas/ ouput
c) personnel savings
d) peningkatan kompetensi
e) Nilai tambah pekerjaan

v. Kalkulasi nilai Return On Training Investment (ROTI)
Nilai ROTI dapat dilihat dari benefit-cost ratio atau nilai ROI. Adapun rumus perhitungan ROTI yang digunakan adalah:

Benefit-cost Ratio (BCR) =      Total Net Benefit

                                                                 Total Training Cost

 

ROI ( % ) = ( Total Net Benefit – Total Training Cost ) x  100%

                                          ( Total Training Cost)

Dimana:
BCR merupakan nilai perbandingan antara manfaat yang diperoleh dengan keseluruhan biaya yang dikeluarkan.Nilai BCR yang menguntungkan adalah jika lebih dari 1.
Persentase ROI merupakan perbandingan antara selisih nilai manfaat pelatihan dan biaya pelatihan dibandingkan dengan biaya pelatihan.ROI dinyatakan dalam bentuk persentase.Nilai ROI dikatakan menguntungkan jika nilianya lebih dari 100%.
TotalNet Benefits merupakan keuntungan bersih yang diperoleh dari hasil penerapan pelatihan setelah memperhitungkan faktor isolasi. Sedangkan Total training cost adalah jumlah total biaya pelatihan yang dikeluarkan.

 

Faktor Isolasi

Dengan melihat begitu banyaknya hal yang mungkin berpengaruh pada kinerja seseorang maka sebagai peneliti kita harus memastikan bahwa faktor pengetahuan dan skill yang diperoleh dari pelatihan merupakan hal yang berpengaruh terhadap peningkatan kinerja seseorang dan bukan faktor lain. Untuk memastikan hal tersebut Phillips (2003) menganjurkan beberapa metode. Berdasarkan pengalaman penulis, ada dua metode yang relatif mudah diterapkan di lapangan, yaitu dengan control groups atau skala keyakinan pengaruh pelatihan.

Control Groups sebenarnya merupakan metode isolasi yang paling akurat, yang dilakukan dengan cara membandingkan kinerja antara kelompok yang mengikuti program training dengan kelompok lain (control groups) yang tidak mengikuti program training. Hanya saja, metode ini juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain sangat sulitnya untuk mendapatkan control groups yang benar‐benar identik dengan kelompok yang mengikuti program training selain dari pengaruh training itu sendiri. Kelemahan lainnnya adalah apabila kelompok‐kelompok yang dibandingkan tersebut berada di lokasi yang berbeda, maka terdapat pengaruh lingkungan yang berbeda pula.

Cara kedua adalah menggunakan skala keyakinan pengaruah pelatihan. Metode ini dilakukan dengan cara meminta peserta/ responden untuk memperkirakan besarnya pengaruh training terhadap pekerjaannya dalam ukuran persentase. Pertimbangan penggunaan metode ini antara lain adalah bahwa peserta pelatiha nmerupakan pihak yang terlibat langsung dan oleh karenanya paling mengetahui perubahan apa saja yang terjadi setelah dia mengikuti program pelatihan. Sebagai penguat, atasan dari responden juga diminta untuk memperkirakan persentase dampak pelatihan terhadap perubahan kinerja responden yang bersangkutan.

 

sumber:

Phillips, Jack. J. 2003. Return On Investment In Training and Performance Improvement Program. Burlington : Butterworth-Heinemann Publication.

Why Train: Calculating The Return on Training Investment. Modul diunduh dari http://www.peopledev.co.za/library/Determining%20ROI%20in%20ETD.pdf pada 2 Agustus 2013 pukul 08:05 WITA

Determining ROI in ETD. Modul diunduh dari http://www.peopledev.co.za/library/Determining%20ROI%20in%20ETD.pdf pada 2 Agustus 2013 pukul 08:06 WITA

 

Guru Tangan Kosong

This item was filled under [ Uncategorized ]

Pernahkah Anda memperhatikan peralatan apa yang dibawa guru ketika mengajar di kelas? Setidaknya mereka membawa buku teks yang menjadi bahan utama sumber materi yang mereka ajarkan. Sebagian membawa tas untuk menampung buku-buku yang mereka bawa lebih dari satu, sebagian hanya dengan ditenteng bertumpuk begitu saja.

Bagaimana dengan dosen? Pernahkah Anda memperhatikan apa yang mereka bawa ketika masuk ke dalam kelas untuk mengajar? Yap, buku teks yang lebih tebal biasanya. Di zaman teknologi canggih saat ini, sebagian membawa komputer jinjing yang kemudian akan disambungkan dengan proyektor untuk mempresentasikan materi kuliah mereka. Bahkan saya sering berdecak iri melihat dosen yang datang ke kelas membawa komputer jinjing, telepon genggam, dan sabak elektronik yang semua merknya sama, yaitu apel congek. Kalaupun tidak membawa komputer jinjing sendiri, setidaknya mereka membawa flash disk yang berisi materi kuliah.

Namun, di masa kuliah saya yang baru ini ada sesuatu yang berbeda. Seorang guru besar yang kumisnya mengingatkan saya pada Commissioner Gordon dalam film Batman, ternyata datang ke kelas untuk mengajar dengan tangan kosong. Tidak ada buku teks, tidak menenteng computer jinjing, tidak mengantongi flash disk, tidak ada materi presentasi yang terpancar melalui sorotan proyektor. Semua ilmu di kepalanya disampaikan melalui lisannya, dan dituliskannya sendiri contoh-contoh berupa angka-angka penjelasannya di papan tulis. Lisannya bertutur jelas, tangannya menulis lancar, tanpa melihat buku teks yang memang tak satu pun ia bawa. Mata kuliah yang penuh dengan angka-angka itu ia buka dan ia tutup dengan guyonan yang cerdas tentang Maya Tilis yang tak mau bercermin dan perguruan tinggi mana yang paling jago (berkokok).

Saya jadi teringat 11 tahun yang lalu. Seorang guru dengan perawakan kecil dan jenggot yang khas masuk ke dalam kelasku hendak mengajar, juga dengan tangan kosong. Ia melenggang santai masuk ke dalam kelas, tanpa satu pun buku di tangan, hanya satu buah pena di saku kemejanya. Yang pertama kali ia ambil adalah kapur, kemudian menuliskan angka-angka yang berkuadrat di papan tulis. Secara acak Ia memanggil nama beberapa murid berdasarkan presensi yang disediakan di meja kelas untuk menyelesaikan soal-soal yang telah ia tulis di papan tulis, saya termasuk yang tidak ia panggil. Di akhir kelas pengikut Newton dan Einstein itu, sang guru malah berkisah tentang VUTW dan VUTB. Saya tak mengangkat tangan untuk menjawab ketika Ia bertanya apa kepanjangan VUTW, meski saya tahu yang Ia maksud adalah varietas unggul tahan wereng. Begitu pula saya segan untuk menjawab, meski saya yakin VUTB yang ia maksud kepanjangannya adalah varietas unggul tahan banting. Sang guru kecil berjenggot itu mengharapkan para muridnya menjadi jenis manusia unggul yang tahan banting terhadap segala macam tantangan hidup. Dan saya sampai hari ini tak pernah lupa kelas itu, dimana saya pertama kali menyaksikan ada seorang guru yang datang mengajar dengan tangan kosong. Jika Anda pernah bertemu langsung denganku, juga pernah bertemu langsung dengan sang guru itu, akan tahulah Anda bahwa saya memanggilnya Ayah.

Tagged with: [ , , , , ]

Menulis Sejarah

This item was filled under [ Uncategorized ]

Saya ingat salah satu pelajaran sejarah dahulu, bahwa yang membedakan masa sejarah dengan masa pra-sejarah adalah tulisan. Yang disebut masa pra-sejarah adalah masa dimana belum ditemukannya bukti-bukti atau peninggalan-peninggalan berupa tulisan. Sebuah peradaban jika belum meninggalkan jejak tulisan, dikatakanlah itu sebagai peradaban pra-sejarah. Periode saat peradaban tersebut mulai meninggalkan jejak tertulisnya merupakan periode mulainya meninggalkan masa pra-sejarah. Maka saya pun menulis, karena tak ingin diri ini terpaku pada masa pra-sejarah, agar beranjak maju untuk meninggalkan jejak-jejak tertulis yang semoga memberi manfaat pada kehidupan kini dan kehidupan nanti. Aamiin:)

 

Tagged with: [ , , , ]